Nasgithel


Dalam sebuah perbincangan mengenai teh, saya sempat bertanya-tanya apakah teh akan digemari oleh muda-mudi seperti kopi saat itu, terlihat dari menjamurnya kedai kopi hampir di setiap sudut, pinggir, tepi, batas kota, hingga pelosok desa—dengan konsep menikmati keindahan alam, tentunya. Seseorang menjawabnya dengan serba “mungkin”. Jika mengingat bagaimana fungsi atau khasiat yang terkandung di dalamnya, teh sangat mungkin menjangkau pasar dengan tujuan kesehatan. Jika bermaksud mengemas kegiatan meminum teh secara kekinian dan modern, jelas sangat mungkin dengan segala teknik penyajian dan campuran bahan lain selain hanya teh.

Waktu itu saya belum mengenal Solo lebih dalam—meski hingga sekarang pun rasanya masih sebatas permukaan—dan belum memahami bahwa budaya ngeteh di sini sangat terkenal. Apalagi, dengan istilah nasgithel alias panas, legikenthel, mengenai bagaimana teh yang enak disajikan ketika masih panas, terasa legi atau manis, dan kenthel atau kental—dalam artian campuran air dan daun teh tersebut tidak encer sehingga rasa teh masih terasa, tidak didominasi air atau gula. Pun, sepertinya saat itu saya belum akrab dengan wedhangan dan angkringan yang menyediakan teh nikmat tidak tanggung-tanggung. Misalnya saja es teh yang dibungkus plastik—pasti selalu dalam kemasan jumbo menurut saya.

Minuman, bagi sebagian orang, hanya dianggap sebagai penghilang dahaga. Itu memang fungsi utamanya. Namun, bagi sebagian lain, minuman dapat menyertai penikmatnya dalam menjalani aktivitas keseharian, kaitannya dengan pekerjaan hingga sebagai teman bersantai, baik sendiri maupun beramai-ramai. Kegiatan minum dalam beberapa kebudayaan sering disertai dengan obrolan, baik ringan maupun serius.

Apa yang disuguhkan oleh tuan rumah pun adalah minuman. Dalam masyarakat Jawa, teh merupakan minuman yang paling sering ditemui ketika bertamu. Hal tersebut mengingat sifat teh yang ringan dan cocok bagi segala kalangan. Bahkan, teh menjadi barang wajib yang selalu ada dalam persediaan di sebuah rumah, mengingat harga teh yang bisa dikatakan relatif terjangkau.

Kembali, apakah pamor teh dapat menyeimbangi dominasi kopi yang dikemas secara kekinian atau bahkan menyainginya?

Belakangan ini bermunculan kedai-kedai yang tidak hanya menyediakan kopi, tetapi juga teh. Bukan, bukan sebagai minuman yang hanya dikenal berasal dari Thailand dengan maskot gajahnya di kemasan dengan bahan campuran berupa susu hingga krim keju. Lebih dari itu, lokalitas teh diperas habis-habisan dengan campuran bahan-bahan lain agar terkesan lebih kekinian, asal tetap dengan penjenamaan lokal.

Akan tetapi, penyajian teh juga bisa disertai dengan bermacam filosofi seperti yang selama ini terjadi pada penyajian kopi. Tidak jauh berbeda dengan kopi, teh juga sebenarnya memiliki beragam cita rasa—sebagian besar kita tentu paham ini. Pun, kesan yang ditimbulkan setelah meminumnya. Tidak kaleng-kaleng, mereka jelas bukan sekadar menjual bualan alias filosofi asal-asalan.

Pengalaman ngeteh saya di Solo selain di wedhangan, angkringan, dan kosan, saya akui dimulai di sebuah kedai—bisa disebut ruko—di salah satu sudut Pasar Gede. Bernama Titilaras (disertai aksara jawa pada papan namanya), kesan yang muncul barangkali adalah kesan lokal, sederhana, dan “merakyat”—seperti yang biasa digaung-gaungkan orang nomor satu di Solo lebih dari satu dekade lalu.

Menu yang ditawarkan tidak banyak, tetapi cukup beragam. Tidak ada daftar menu. Kepada setiap pengunjung/pembeli, ia—penyaji sekaligus pemilik kedai—menjelaskan apa yang tersedia dan bisa disajikan. Karena bukan sejenis kedai siap saji, ia memperlihatkan jenis-jenis teh dan bahan lain yang ada, baik yang sudah menjadi resep teh tersendiri maupun yang masih apa adanya.

Yang paling saya ingat, daun teh dengan campuran daun mint dan bahan lain—yang tidak turut teringat oleh saya—yang dinamai Hujan di Mimpi. Menurut pengakuan pemilik resep, nama tersebut diambil dari judul lagu Banda Neira, sebuah kelompok, project yang digagas oleh Ananda Badudu dan Rara Sekar pada tahun 2016—lagi-lagi jika tidak salah ingat. Menu inilah yang saya pesan dengan alasan cukup sederhana. Bukan, bukan sebab tertarik dengan penamaannya, melainkan kesan setelah meminumnya—yang kata pemilik—yakni lebih tenang dan relaks, juga segar. Penyajiannya hanya diseduh dengan air panas, tidak untuk dicampur dengan air dingin atau es batu.

Karena bertempat di Pasar Gede, menu yang ada di Titilaras juga salah satunya ada ramuan teh bernama Pasar Gede dengan campuran, entah saya lupa, beserta aroma mirip rempah-rempah. Berdasarkan penjelasan pemilik, menu ini memang memberi gambaran bagaimana Pasar Gede dicitrakan lewat sebuah minuman, teh. Dari rasa dan aroma, penikmat teh yang satu ini dapat merasakan suasana Pasar Gede. Lebih kurang demikian.

Saya tidak memilih menu tersebut karena, sederhana saja, selama hampir empat tahun di Solo—dipotong masa di rumah selama pandemi—saya belum pernah masuk ke Pasar Gede dan membeli sesuatu di sana sehingga merasa belum mengenal Pasar Gede. Dengan, misal, memesan teh bertemakan Pasar Gede tersebut, saya merasa akan semacam sok tahu dan cenderung kurang ajar dalam mempresentasikan Pasar Gede dalam imajinasi saya, padahal belum banyak tahu. Atau dengan kata lain, saya ingin mengenal Pasar Gede bukan melalui perantara alias cita rasa dan kesan-kesan semata.

Dengan nama menu dan filosofinya, juga cara penyajiannya yang disertai penjelasan langsung dari penyaji/pemilik kedai, Titilaras pantas mendapat banyak pengunjung. Meski jam buka hanya dari pukul 17.30 hingga 21.00, Titilaras nampak selalu kedatangan pembeli, baik dinikmati di tempat maupun dibawa pulang. Sayangnya, kedai dengan cara penyajian sejenis “presentasi menu” terlebih dahulu oleh penyajinya ini harus berdekatan dengan kedai yang menyuarakan lagu cukup keras sehingga penyaji perlu mengulang-ulang penjelasan atau pengenalan menu.

Kembali lagi, saya mengingat bagaimana budaya minum teh di Solo yang—katanya—terkenal dengan teh yang harus nasgithel, sementara penyajian di sini cenderung tidak demikian. Teh yang diseduh dan disajikan ketika masih panas tidak diberi tambahan gula—meski memang itulah yang saya pesan dan kehendaki. Pun, hasil seduhan tersebut terlihat tidak pekat atau kental sebagaimana sering disebut-sebut. Lagi-lagi, saya sangsi dan mungkin memang beginilah minuman-minuman dengan lokalitas yang diperas habis-habisan. Atau, sebenarnya, lokal dengan maksud bagian mana? Lokalitas yang bagaimana? Atau saya yang terlalu sok tahu?

Surakarta, Juli 2022

-Han

Komentar