Nggak Malu!


Awal mula perjumpaan setiap orang dengan buku tentu berbeda-beda. Hal ini dikarenakan adanya selera dan kesukaan masing-masing orang. Begitu pun denganku. Aku tidak mengenal buku sedari aku kecil. Aku bahkan tidak ingat sama sekali buku apa yang pernah aku baca pada masa kanak-kanak selain bonusan buku saku komik dari susu Indomilk. Itu pun sudah lupa judulnya. Perpustakaan SD pun tidak banyak menyediakan bacaan. Aku tidak ingat judul-judul buku yang aku pinjam—hanya sekilas teringat kalau buku itu adalah buku seri yang tidak aku kenali penulisnya sampai saat ini.

Di kota kecil yang menjadi saksi aku tumbuh, satu pun tidak ada toko yang menjual buku bacaan. Baru setelah SMP, aku menemukan satu toko yang menjual buku-buku bacaan, meski tidak banyak karena memang hanya satu. Namun, itu adalah hal yang cukup baik untuk menumbuhkan iklim membaca di dalam diriku sendiri. Beruntungnya, jika tidak salah ingat, ketika kelas 4 atau 5, balai desa membuka perpustakaan desa. Hampir setiap hari aku pasti mampir—sebelum akhirnya mlipir ke warnet karena memang sejalansekadar melihat-lihat apakah ada buku yang baru atau tidak, atau hanya sekadar main karena dekat dengan mbak-mbak pustakawannya.  Sayangnya, perpus desa tidak berumur panjang, hanya sekitar beberapa bulan sampai akhirnya tutup permanen.

Dulu, aku mengakui tidak suka membaca buku karena buku-buku yang aku baca tidak membuat aku ingin membaca buku lagi. Orang tuaku pada akhirnya juga hanya mengetahui bahwa anaknya ternyata tidak suka membaca buku. Sampai akhirnya sejak aku mulai membeli buku sendiri dengan caraku, mereka selalu bertanya, “Beli buku terus, emang dibaca?” Setiap ada kesempatan ke luar kota, entah itu Purwokerto atau Tasik—dua kota yang paling dekat dengan kotakupasti selalu minta untuk menyempatkan ke Gramedia. Meskipun lebih sering titip teman yang secara kontinu atau lebih sering ke luar kota dibanding aku.

Perjalanan cerita “menyukai buku tadi hanya sebagai pemantik panjang untuk memberi penekanan pada topik yang akan aku tulis di sini. Aku pernah menyangkal dan menekankan penyangkalan di dalam diriku bahwa bacaan masa-masa remajaku tidaklah lebih baik dibanding bacaanku saat ini. Aku pernah merasa sedikit “malu”—dalam tanda kutiphanya sedikit. Tentu gejolak-gejolak itu hanya terjadi di dalam diriku, tidak aku bicarakan dengan siapa-siapa. Toh, buat apa orang lain mengetahui tentang itu. Tapi, sekarang kalian tahu karena inilah yang ingin aku tulis.

Aku harus mengakui sejak awal bahwa pemantik bacaan awalku adalah buku Dilan. Aku membaca buku lain karena aku mulai menyukai membaca sejak aku membaca Dilan. Itulah pengakuan paling berani dariku setelah aku melakukan penyangkalan selama beberapa waktu bahwa sejak aku keluar SMA, aku tidak bisa menerima Dilan sebagaimana yang pernah terjadi pada masa SMP-ku. Bukan tanpa alasan. Bisa juga alasan itu dibuat oleh diriku sendiri.

Lahirnya ekranisasi film, parodi, meme, dan lainnya tentang Dilan yang membuat aku risi terhadap dunia ke-Dilan-an, sampai akhirnya aku menyangkal tidak lagi menyukai Dilan, tidak mengakui bahwa aku pernah menyukai Dilan. Bukan Dilan sebagai tokoh yang ada dalam cerita, tetapi Dilan sebagai bacaanku. Aku berusaha mencari-cari bacaan pemantik lainnya yang mendorong aku mau membaca pada saat itu, tetapi nihil. Memang Dilan adalah permulaanku di dunia buku.

Aku tidak yakin orang lain pernah merasakan atau mengalami hal yang sama. Pernah merasakan malu”—dalam tanda kutip—atas bacaan lamanya yang rasanya terlalu menye-menyealay, atau anggapan lain yang membuat diri sendiri merasa enggan mengakui dan melakukan penyangkalan. Bacaan satu dan lainnya itu sama saja, sama-sama bacaan. Dinikmati pembaca dari sudut pandangnya masing-masing. Tidaklah menjadi soal ketika si A akan memaknai dengan sudut pandangnya dan si B dengan sudut pandangnya. Itulah kebebasan atas hak sebagai pembaca.

Penyangkalan-penyangkalan yang aku alami beberapa waktu lalu terjadi karena aku mengiakan sudut pandang si A dan si B secara bersamaan, kemudian meruntuhkan sudut pandangku sendiri. Padahal, tidak harus demikian. Aku yang tidak berani mengakui sudut pandangku menjadikan aku kabur dari pertanyaan-pertanyaan dan jawaban-jawaban yang dianggap lebih tepat menurutku—padahal itu bukan berasal dari pikiranku sendiri. Sebab, padangan kita terhadap sebuah cerita sedikit banyak memang bergantung pada diri kita sendiri; apakah kita sudah melewatkan atau keliru menafsirkan berbagai ‘pertanyaan’ yang disodorkan oleh cerita ataukah ‘perhatian’ kita yang salah tempat.

Setelah tandas membaca Ancikabuku seri keempat Dilan, aku menyadari bahwa aku tidak perlu malu atas apa yang aku baca dulu. Bagaimana orang lain menerjemahkannya, mengimajinasikannya, menafsirkannya, atau membacanya, tidak menjadi soal dan tidak akan mengubah pembacaanku terhadap Dilan. Aku harus berani mengakui bahwa memang aku membaca Dilan di masa lalu sebelum akhirnya aku bertemu dan berkenalan dengan bacaan-bacaan lain yang secara sadar dan tidak sadar turut berperan membentuk pola pikirku dari masa ke masa.

Menghormati bacaan orang lain menjadi salah satu lanjutan topik dari mengakui bacaan sendiri. Aku tidak menghakimi selera bacaan orang lain karena untuk apa dan aku pun tidak memiliki hak untuk itu. Aku akan membiarkan dan tidak ikut campur ketika orang lain menjalani proses pencariannya masing-masing, kecuali jika dia meminta rekomendasi bacaan. Aku akan menjawab sekenanya—juga jika aku punya tenaga untuk ngomong atau ngetik.

Persis sepertiku yang juga menjalani proses pencarianku berdasarkan caraku sendiri. Aku tidak akan tertawa jika kamu mengakui bahwa dirimu adalah pembaca berat tulisan Tere Liye. Aku tidak akan menganggap kamu sangat intelektual atau keren karena kamu membaca Sapiens atau buku-buku nonfiksi populer lainnya. Aku tidak akan mengejek kalo kamu mengaku hanya suka membaca komik. Aku tidak akan mengecap kamu anak lawas hanya karena kamu banyak membaca terbitan lama. Semua bacaan sama saja, hanya selera pembaca yang berbeda. Aku dan kamu tentu berbeda sebab kamu bukan aku, sementara aku bukan kamu. Yang sama adalah kita sama-sama suka membaca. Itu saja.

  

Surakarta, 5 Juli 2022

Alhas 

Komentar