La.zu.ar.di
Setiap aku membutuhkan sesuatu yang cepat setelah berhasil mengumpulkan atmosfer yang bercecer, aku malah mendapati warna lazuardi yang berubah abu-abu di kening. Meledak. Dar!
Belum lagi ada black hole. Juga lidah matahari yang menjulai-julai sampai berubah menjadi jelaga. Tak lupa kerak-kerak yang mengerak sempurna di pinggiran kota. Kebahagiaan secuil dari dalam cahaya sana, seolah hanya bisa diintip dari lubang raksasa yang tidak segan menamparmu jauh-jauh.
Rentetan rak yang sengaja bergerilya dari dunia tidaklah bisa diganggu sama sekali. Apalagi soal suaranya yang terendam tanah, yang bahkan setelah ditelusuri tidak ada sumber air lagi di sana. Mungkinkah sebabnya adalah gendang telinganya pecah karena suara keras yang melengking?
Ohhhhhh... sepertinya badannya memang sudah kekurangan tenaga. Katanya, dia pernah bilang, ototnya lepas. Entah bagaimana ceritanya tapi tiba-tiba di suatu malam dia selalu lemas. Lalu besoknya, dan besoknya, dan besoknya, dia terus lemas. Apakah karena dia keseringan dipijat, ya?
Dunia ini memang lucu ya, Nak. Sebenarnya bukan dunia yang lucu. Itu karena kita yang melihat. Kalau dunia yang melihat kita? Sudah terpingkal-pingkal dia ketawa sepanjang tahun. Hahahaa… lucu betul itu manusia!
Sementara kita sibuk memikirkan bagaimana hidup dengan nyaman di dunia ini, dunia sudah lama ingin lekas pamit untuk menyudahi hidupnya yang tidak lagi nyaman.
Surakarta, 27 September 2022
Alhas

Komentar
Posting Komentar