KEMUDAHAN INI JANGAN CEPAT (MEMBUAT) BERLALU
Di pada hari ini banyak lini dan aspek yang rasa-rasanya semakin dimudahkan dengan
tumbuh kembang percepatan teknologi masa kini. Manusia sebagai subjek penemu
dan pengolah semakin gencar mendayagunakan akal mereka untuk berkreasi dan berinovasi
dalam agenda mengurai kerumitan dan membawanya ke dalam kancah yang lebih mudah.
Mengolah sedemikian rupa hari kemarin untuk naik ke tingkat selanjutnya pada
hari ini, sembari mempersiapkan dan menerka bagaimana hari depan bekerja.
Banyak
hal ikut terbawa arus yang—katanya—bernama kemajuan. Aspek sosial, budaya, dan
tentunya teknologi menjadi perihal yang kentara kita rasakan dan nikmati
manfaatnya. Kemudahan menjadi salah satu sifat yang menonjol dari sekian ribu
bahkan juta cuwilan sifat imbas dari arus kemajuan zaman. Di antara
jutaan cuwilan itu terdapat satu hal yang tiba-tiba meloncat dari santernya
arus. Memilih menepi dari dahsyatnya gelombang sistem zaman yang saking
dahsyatnya, menjelma keruwetan dan menimbulakan kesulitan untuk diurai dengan
kesederhanaan, pandangan-pandangan hidup yang nyata dan senantiasa membumi.
Ialah
mereka para penyeimbang kehidupan. Ialah mereka yang tidak ikut tenggelam dalam
pusaran arus yang membingungkan. Ialah mereka yang bukan objek. Melainkan
subjek-subjek kehidupan. Anting-anting dalam layangan yang tidak seimbang di
dalam terbang. Subjek-subjek pengurai keadaan ruwet. Penjelasan di tengah
kondisi yang tidak jelas.
Menyoal
kemudahan agaknya merujuk pada sang oposisi bernama kesulitan. Menyoal kesulitan
agaknya merujuk pada sikap mencari cara untuk mengolah kesulitan menjadi kemudahan,
setidak-tidaknya menguatkan. Sebaliknya, di dalam kemudahan sering terjadi angel-angelan
untuk sekadar diajak menengok kesulitan-kesulitan di masa silam, berkaca dan
belajar, serta membayangkan bagaimana kesulitan di masa mendatang dapat
terhindarkan dengan kendaraan kewaspadaan. Hal itu menjadi lumrah di tengah
sikap dasar manusia hari ini yang ingin penake tok—meski tidak sedikit
pula yang terlalu nyaman dengan ketidakefektifan yang kadung biasa sehingga
menyebabkan enggan sederhana. Tetapi, persoalannya tidaklah pada perihal kemudahan
dan kesulitan. Melainkan perilaku nggampangke di dalam keduanya.
Saya
tiba-tiba diingatkan dengan pesan Ibu saya yang selalu mewanti-wanti
untuk senantiasa hati-hati di dalam segala kondisi. Terlebih ketika hendak
melakukan perjalanan, pergi atau kembali. Pernah pada suatu waktu saya
menanyakannya pada Ibu mengenai alasan kenapa harus hati-hati selalu. Ibu saya saat
itu hanya tersenyum sembari mengatakan kelak kalau waktu kamu akan tahu. Heuheu.
Kembali
menyoal kemudahan. Saking biasanya dilingkungi kemudahan, hari ini kita
cenderung menjadi pemalas terhadap hal-hal yang sebenarnya biasa saja tetapi
kita sebut sebagai kesulitan karena memiliki kadar lebih dari taraf dan ukuran yang
biasanya. Parahnya lagi jika sampai tergesa mengatakan tidak bisa pada sesuatu
yang belum dicoba. Mungkin karena itulah muncul akronim mager (malas gerak)
sebagai gambaran zaman pada kebanyakan generasi yang turut meramaikan abad ke
dua puluh ini.
Saya
tidak akan membandingkannya dengan bagaimana masa silam atau sejarah bekerja.
Saya hanya mengajak untuk menengok, nyekar pada akar-akar sendiri. Kalau
kita buah, kita memerlukan jatuh ke tanah untuk menengok akar yang telah dan
tengah memberi hidup bagi kita. Kemudian memunculkannya sebagai tunas-tunas
baru yang kelak dan semoga membawa kesegaran di tengah gejolak zaman yang
semakin sulit dimengerti dan sulit dipercaya. Menjadi generasi penerus segala
ihwal yang memang seharusnya diteruskan. Maju secara bersama dalam tempo
secukupnya, dalam pikiran dan tindakan yang senantiasa dalam nada kesungguhan.
Kemudahan
jangan kemudian menjadi alasan untuk kita leha-leha dan seolah hidup selalu baik-baik
saja. Memang, hidup yang baik-baik saja adalah harapan bagi siapa saja. Tetapi
bahasa bernama risiko, akibat, dan panenan selalu ada dan memerlukan kesiapan
di awal perencanaan. Sebab adakalanya terjadi ketiba-tibaan, hujan turun tanpa mendung,
langit cerah bisa sekejap berubah murung. Bukan menyuruh untuk tidak iman dan
tidak pasrah pada kehendak Tuhan. Melainkan, sebelum menuju kepasrahan ada
baiknya diperlukan perencanaan dan tindakan-tindakan sesungguh mungkin untuk
menjaga jiwa tetap dilingkungi sikap ingat dan waspada.
Ayam
jago tidak serta merta ada begitu saja. Ia ada dari sebutir telur yang keluar dari
sang induk kemudian dierami untuk menetas sebagai kuthuk. Sebutir debu jika
ia bertengger di dalam mata akan membuat gangguan pada pandangan kita. Merasa
baik-baik saja bukanlah kekeliruan. Hanya saja kita perlu merasanya dalam
koridor ingat dan waspada untuk tidak sampai terlena dan berlebihan di dalam
merasa. Kemudahan dan kesulitan memerlukan kehati-hatian yang tepat. Ya,
hati-hati, bukan rasa takut. Sebab hati-hati dan rasa takut sering tumpang
tindih dalam pelaksanaannya. Pertanyaannya, kita berdiri di mana?
Kemudahan
erat kaitannya dengan ketenangan. Dan di dalam ketenangan atau kebaik-baik
sajaan agaknya selalu menyimpan ancaman. Bahkan ancaman sebiji debupun. Pada
kemudahan janganlah sampai pada kemalasan. Pada kemalasan janganlah sampai
menjadi kebiasaan yang dilumrahkan. Mari kita on kan segala diri kita
yang kadung menjadi off imbas dari kemajuan yang memanjakan. Apa yang
masuk di dalam diri kita haruslah selaras dengan apa yang kita keluarkan.
Bekal
yang telah kita siapkan dan bawa janganlah dilandaskan pada rasa takut. Bekal
atau sangu adalah cara untuk menunaikan kewaspadaan. Dan bekal tidaklah
boleh dalam koridornya yang berlebihan. Sebab, kita semua tahu segala yang
berlebihan dapat menyebabkan gangguan-gangguan yang merujuk pada
ketidakseimbangan. Dan kita pun sama tahu, ketidakseimbangan melahirkan
kemacetan dan bahkan kemampatan.
Pada
akhirnya kita perlu bangun dari tidur panjang di ranjang kemudahan. Otot-otot
yang jarang difungsikan memerlukan kerja pemanasan agar tidak tegang dan
membuat kita dekat dengan cedera. Segala indra perlu diaktifkan kembali.
Lubang-lubang yang tersumpal perlu kita rogoh dan bersihkan agar aliran mengalir
lancar. Kerak-kerak perlu kita sikat untuk menuju kemurnian. Maka, bangunlah
kita menyongsong hari depan dengan pandangan yang menyeluruh. Kelengkapan dan
kematangan yang murni. Tanpa campur tangan keserakahan yang merupakan ciri
kebanyakan manusia hari ini. Kemudahan ini janganlah cepat membuat berlalu.
Kesulitan ini janganlah sampai membuat nglalu.
/Minda Lacika
Surakarta, 14 Februari 2023

Komentar
Posting Komentar